Selasa, 31 Juli 2018

Berbincang dengan Sosok Di Balik Logo Asian Games 2018

Jefferson Edri dari Feat Studio menjadi bagian dari skenario besar atas kerisauan para pelaku kreatif bangsa ini yang merasa sangat terpukul atas keputusan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang telah memperkenalkan DRAWA sebagai maskot Asian Games 2018 pada Minggu (27/12/2015) lalu. 

Maskot Asian Games berupa karakter kartun burung cenderawasih yang merupakan burung khas tanah papua yang dikenal dunia akan kecantikannya dipadukan dengan kostum pencak silat sebagai salah satu cabang olahraga khas bangsa Indonesia yang diberi nama Drawa ini sebenarnya sudah sangat menggambarkan karakter khas bangsa Indonesia itu yang ternyata mendapat banyak kritikan dari masyarakat dikarenakan desainnya yang terkesan jadul dan sederhana. Sehingga ketika mulai diperkenalkan memancing banyak pihak yang merasa terpanggil untuk melakukan perubahan desain dan sepertinya bisa dimengerti oleh Menpora Imam Nahrawi yang merasa desainnya memang memiliki kesan kaku dan kurang menarik.

Tentu saja sebagai even bertaraf internasional yang Insya Allah akan diselenggarakan mulai 18 Agustus sampai 2 September 2018 yang akan datang ini, nilai prestise dari penyelenggarakaan asian games ini teramat tinggi dan sangat disayangkan apabila Indonesia yang terkenal dengan industri kreatifnya hanya bisa menghasilkan maskot dan logo yang sederhana seperti Drawa.

untuk sedikit mengintip proses kreatif dan filosofi di balik pembuatan identitas desain Asian Games 2018, kali ini harriposter ingin sedikit mengutip kaum muda dibalik penciptaan karakter maskot baru asiangames 2018 yang dirangkung dari

https://www.whiteboardjournal.com/ideas/berbincang-dengan-sosok-di-balik-logo-asian-games-2018-jefferson-edri/

Maskot sebelumnya “Drawa” dinilai terlalu jadul, tidak informatif, dan ‘keberatan’ identitas budaya, melihat desainnya yang terkesan dibuat seadanya. Apa tanggapan Anda tentang persepsi pemerintah atas standar desain grafis di Indonesia?
"We cannot say it’s the best, yet, but it’s improving. There is an improvement." 
Kalau saya berusaha melihat yang positifnya aja. Tentu ada negatifnya, tapi menurut saya negatifnya itu dari dulu kami sudah tahu. Tapi yang positifnya ini bisa kita lihat semenjak logo “70 Tahun Indonesia Merdeka”. Sebagai seorang desainer yang sudah bekerja beberapa tahun, sudah mengalami pemerintahan dari sebelumnya dan tiba-tiba ada logo 70 dan seterusnya, menurut saya, we cannot say it’s the best, yet, but it’s improving. There is an improvement. Itu yang kita tidak bisa deny. Walaupun masih kacau atau kurang, tapi semua proses membutuhkan waktu.

Dan dengan adanya Bekraf sekarang yang menyokong dunia kreatif industri juga, Indonesia mulai masuk ke London Biennale, London Book Fair, dan Frankfurt Book Fair. Jadi menurut saya, arahannya benar. Ya, kalau step-by-step, slowly, tapi we have to bare with it. But at least it’s going to the right direction. Buat saya itu lebih penting daripada kalau kita mempermasalahkan apapun yang sudah-sudah. Lebih baik kita lihat saja ke depan yang bisa lebih baik seperti apa dan kita berusaha mendukung karya itu.

Contohnya Asian Games. We didn’t know what happened to the previous one. We didn’t know where it came from. But at least after there were some problems, the government tried to mend the problem, and tried to open it for the professionals, ya walaupun sayembara tapi ada syarat-syaratnya dan itu cukup bagus karena bukan terbuka untuk umum saja tapi terbuka untuk pekerja professionals. Menurut saya it’s a better way of doings things. Still structured, tapi it’s a process.

Dari proses penjurian yang ketat karya Anda berhasil memenangkan sayembara tersebut. Bagaimana proses kreatif di balik pembuatan logo dan maskot tersebut dan apa filosofi di balik terbentuknya logo dan 3 maskot baru ini?

Kami sangat mementingkan bagian awal dari sebuah proses kreatif. Prosesnya sendiri itu kita bagi, yang pertama itu basically understanding the brief and then knowing the background and everything. That usually takes up to 40% of the time. Jadi kami perlu riset banget. Dan perbedaan proses ini dengan pekerjaan biasanya itu ada brief dari klien yang jelas dan kami bisa bertanya dengan kliennya, what is it that you really want and what you’re trying to say. Ini kan tidak.

Ini sayembara dan basically we were given a brief, they told us that this is the structure, bahwa temanya itu “Energy of Asia” dan ini harus di apply ke Indonesia, negara Asia, dan dunia olahraga. Basically itu. Jadi kami tidak tahu mau mengangkat angle apa dan untuk kami, itu jauh lebih susah. Sebenarnya Asian Games itu mau mengkomunikasikan apa apa? Mungkin ini akan kembali ke filosofi itu tadi. Because we don’t have a client to give us a clear direction of the message, we have to decide what kind of message we want to say because buat kita we look at it as a brand. We didn’t look at it as a sports event. And for a brand to be good, it has to have a good story. Because we believe that people want to be a part of a good story.
"And for a brand to be good, it has to have a good story. Because we believe that people want to be a part of a good story."

Jadi kami berusaha membuat story-nya terlebih dahulu. Makanya kita jadi belajar sejarah. Jadi tahu “Oh dari tahun ‘62 sudah pernah ada Asian Games di Indonesia?” Dan tahun itu dibuatnya bagaimana. Jadi belajar pada tahun itu they managed to have Gelora Bunga Karno, the whole complex, done in two years back then, with their kind of budget and their kind of people. Jadi buat saya, wow, that’s an achievement banget. Jadi tahu stadium Gelora Bung Karno itu stadium pertama di dunia yang punya atap, karena sebelumnya semua stadium di dunia itu tidak punya atap. Dan saat Pak Sukarno meminta atap ke arsitek ataupun engineer orang Rusia itu basically they were like ‘are you crazy?’ But he demanded, and it happened. And then we have the first rooftop stadium in the world. And it’s one of the biggest stadium as well back then. Jadi achievement-nya itu banyak sekali. Ada banyak fakta-fakta seperti ini yang belum pernah saya dengar. Jadi ternyata it meant so much, this Asian Games in 1962, back then because itu adalah international event pertama setelah kita merdeka.

Dan Presiden Sukarno waktu itu ingin sekali mendapatkan event ini, karena untuk dia this is the right platform to launch Indonesia to the international stage. Bahwa kita bangsa yang merdeka dan bisa bersaing. Dan itu adalah platform yang benar. Walaupun olimpiade mungkin terlalu besar. Jadi buat kami, it has that kind of message, story, vision, and dreams. Sukarno itu percaya olahraga adalah pembangunan karakter, jiwa dan bangsa juga. There is this kind of vision our founding father has about this nation and its people that he put into that place. Lalu, waktu mengerjakan ini selama 3 minggu itu, ada kasus bakar-bakaran kursi di Senayan, dan di situ kami merasa bahwa this is kind of ironic. This place has that kind of meaning before dan that kind of vision built into it. But nowadays people don’t realise it, I don’t even realise it. Jadi buat kami maybe that’s the kind of story we want to tell. It is a good story and let’s try to tell this story.

Makanya buat kami, this project for us, the whole message is ‘keep the dream alive’. There is a dream inside that place, there is a dream put into a time capsule so let’s keep it alive. This place needs to be alive to remind us of what the original plan is for this country, for this nation, for the people. Saya tidak pernah belajar ini di sekolah. We don’t know whether we can win or not if we look at it as a competition, but if we look at it as something that what we want to tell people, this is what we want to tell people. This is what matters for us.

Basically, personifikasi dari proyek ini adalah Sukarno. It has the same kind of message, it has the same kind of tone with the whole dream and vision. Kami mau mengingatkan saja kalau we have all of this already, let’s not try to make something new. Let’s try to remember who we are before everything. Kurang lebih seperti itu simple-nya, which doesn’t sound simple at all.


     Kami mau mengingatkan saja kalau we have all of this already, let’s not try to make something new. Let’s try to remember who we are before everything.

baca kisah selengkapnya di:

https://www.whiteboardjournal.com/ideas/berbincang-dengan-sosok-di-balik-logo-asian-games-2018-jefferson-edri/

Dan ini adalah 3
Maskot Resmi Asian Games 20181. 

1. Bhin Bhin.
Lucu Imut-imut, Inilah 3 Maskot Resmi Asian Games 2018
Lucu Imut-imut dengan nama Bhin-Bhin adalah maskot yang diadaptasi dari seekor burung asal Papua yang terkenal akan kecantikannya, Cendrawasih (Paradisaea Apoda). 
Dipadu padankan dengan rompi motif khas suku asmat yang ingin merepresentasikan nilai strategi dengan harapan para atlet khususnya Indonesia bisa bersaing dengan strategi yang baik.

Lucu Imut-imut, Inilah 3 Maskot Resmi Asian Games 2018

2. Atung 

Atung adalah seekor rusa khas bawean (Hyelaphus Kuhlii) yang mengenakan sarung dengan motif tumpal dari Jakarta. Habitat asli dari Rusa bawean sendiri adalah hewan yang banyak di jumpai di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Atung menjadi maskot yang merepresentasikan kecepatan, karena rusa sendiri dikenal akan kecepatan berlarinya.


3. Kaka.

Lucu Imut-imut, Inilah 3 Maskot Resmi Asian Games 2018

Kaka adalah maskot yang terinspirasi dari seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang keberadaannya mulai sangat langka, hanya bisa ditemukan di Ujung Kulon, Indonesia. Hewan ini mengenakan pakaian tradisional dengan motif bunga khas asal Palembang. Karena tubuhnya yang sangat besar dan kuat, di sini Kaka ingin merepresentasikan akan sebuah kekuatan yang hakiki dari sebuah perlombaan itu sendiri.